Feel Free To Read It

Kami Datang... Belajar... Dan Melayani
We Came... Learn.. And Serve

Selasa, 23 November 2010

Makna Kebahagiaan

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas dengan
kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia miliki. Tapi Raja ini
tidak seperti itu. Sang Raja selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan
kehidupannya. Tentu saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi,
menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia tetap merasa ada
sesuatu yang kurang dan ia tidak tahu apa sebabnya.

Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-
jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam ruang tamunya yang luas dan
berhenti ketika ia mendengarkan seseorang bernyanyi dengan riang dan perhatiannya
tertuju kepada salah satu pembantunya yang bersenandung gembira dan wajahnya
memancarkan sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia pun
memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya.

Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang telah diperintahkan.
Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu riang gembira. Kemudian, si hamba
menjawab, “Yang Mulia, diri saya tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang
saya peroleh cukup untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak
memerlukan banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk
mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi saya, mereka puas
dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit. Saya bersukacita karena mereka
bersukacita.”

Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan kemudian memanggil
asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Sang Raja berusaha mengkaji perasaan
pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah yang baru saja didengarnya, berharap dirinya
dapat menemukan suatu alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa
yang dapat diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya
memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar.

Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang Raja dan
kemudian menarik kesimpulan. Ujarnya, “Yang Mulia, saya percaya si hamba itu belum
menjadi bagian dari kelompok 99.” “Kelompok 99? Apakah itu?” tanya sang Raja.
Kemudian, sang asisten pribadi menjawab, “Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu
Kelompok 99, Yang Mulia harus melakukan hal ini… letakkan 99 koin emas dalam
sebuah kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba, setelah itu
Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99.”

Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang berisi 99 koin
emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan muncul, dan sang Raja ingin
memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti nasihat si asisten pribadi dan tetap
meletakkan 99 koin emas.

Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya ke luar rumah,
matanya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam hatinya, ia membawa kantung itu
masuk ke dalam dan membukanya. Ketika melihat begitu banyak koin emas di dalamnya,

ia langsung berteriak girang. Koin emas… begitu banyak! Hampir ia tidak percaya.
Kemudian ia memanggil istri dan anak-anaknya ke luar memperlihatkan temuannya.

Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan seluruh isinya dan
mulai menghitung. Hanya 99 koin emas, dan ia pun merasa aneh. Dihitungnya kembali,
terus menerus dan tetap saja, hanya 99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya,
kemanakah koin yang satu lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin
emas. Ia pun mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir.

Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk
menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap 100 koin emas.
Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak enak, berteriak-
teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan
malam sebelumnya dengan bekerja keras agar ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba
bekerja seperti biasa, tetapi tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti
biasanya. Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya
ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut.

Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis, lalu memanggil
asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan apa yang telah dilihatnya dan si
asisten pribadinya tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Sang Raja bertanya,
bukankah seharusnya si hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas.

Jawab si asisten,”Ah.. tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi telah masuk
ke dalam Kelompok 99.” Lanjutnya, “Kelompok 99 itu hanyalah sebuah nama yang
diberikan kepada orang-orang yang telah memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa
puas, dan mereka terus bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar
genap 100 koin emas. Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan kita
bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita diberikan yang lebih baik
dan lebih banyak, kita menghendaki lebih! Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang
puas dengan apa yang ada, tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki
keinginan seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan waktu
tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitar kita hanya untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Orang-orang seperti itulah yang
tergabung dalam Kelompok 99!”

Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia akan mulai
menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup. Berusaha untuk memiliki lebih itu bagus,
tetapi jangan berusaha terlalu keras sehingga kita kehilangan orang-orang yang dekat
dengan kita, jangan pernah menukar kebahagiaan dengan kemewahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar